Pelita Online – Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon.

Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon

KEBANYAKAN anak-anak muda setelah lulus dari perguruan tinggi pola pikirnya menjadi pegawai negeri. Alasannya supaya hidup mapan dan terjamin lahir dan batin. Berwirausaha atau pulang kampung membangun ‘lembur kuring’ sudah menjadi pilihan langka bagi anak-anak muda sekarang. Bahkan, tidak sedikit dari anak muda yang sarjana, lebih baik menganggur daripada menjadi petani yang harus memegang cangkul. Mereka sudah dininabobokan oleh kehidupan hedonisme kota dan gaya hidup hardolin.

Segelintir anak-anak muda dari Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tidak mau dicap hardolin. Setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka melihat kampung halamannya masih miskin dan terbelakang. Anak-anak muda ini melihat ada potensi besar yang bisa dikembangkan di kampungnya.

Salah satu anak muda ini yaitu Taopik Sopyan, bersama rekan-rekannya mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian dan Holtikura Agronomi Al-Madaniyah di Kampung Cibuleud. Tahun 2001, adalah awal mula berdirinya Al-Madaniyah sebagai cikal bakal komunitas anak muda yang peduli pendidikan.

Al-Madaniyah berarti peradaban atau kemadirian masyarakat. Al-Madaniyah bervisi menjadi laboratorium dan lumbung generasi pertanian 2013. Di sini anak-anak dan masyarakat yang semula tak berfikir sekolah kini mulai mengukir cita-cita dari pintu jendela Al-madaniyah ini. Mereka dapat menggali dalamnya pengetahuan tanpa mahalnya biaya dan mewahnya seragam sekolah. Sementara moto sekolah yaitu ‘Pinter Bener-Singer Bageur’
Taopik Sopyan yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan kepada Pelita kemarin mengatakan, SMK Agronomi Al-Madaniyah saat ini membuka dua jurusan yaitu Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikulta (Perkebunan dan Sayur-sayuran).

“Selain membudidayakan tanaman Sengon, anak-anak sekolah pun diberikan kemampuan bercocok tanam sayur sayuran, papaya, termasuk pengembangan Pepaya California,” katanya.
Bahkan, ujar Sofyan, untuk lebih memperdalam kemampuan para siswa dalam pertanian, SMK Agronomi Al-Madaniyah mengkhususkan satu hari dalam seminggu untuk praktik di kebun-kebun pembibitan yang ada di sekolah.

Bila sekolah lain beragam dalih dan akal bulus dikemukakan untuk mengutip biaya pendidikan, tapi satu hal yang perlu dicontoh dari SMK Al-madaniyah, sampai sekarang tidak memungut biaya pendidikan kepada para siswa sepersen pun.

“Biaya operasional sekolah diperoleh dari hasil penjualan tanaman sengon, sayur-sayuran dan pepaya yang diolah para siswa. Kebanyakan siswa berasal dari keluarga tidak mampu sehingga siswa tidak dipungut biaya pendidikan, ” ungkapnya. (encep azis muslim)

Sumber : www.pelitaonline.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s