Kegersangan sosial menjelang detik-detik hajatan besar Pilkada di Kab Tasikmalaya telah membuat system social semakin tidak nyaman dirasa baik oleh para bakal calon, tim sukses, parpol, birokrasi, dan juga masyarakat. Baligo, spanduk dan pamflet yang bisa dikonsumsi publik hingga SMS dan facebook yang sangat privat terus menjadi simbol hegemoni dan memanaskan suasana.

Masyarakat dibuat kaget dengan haru-biru munculnya pola baru dimana masyarakat bawah selalu dan terus dikambinghitamkan. Label masyarakat pragmatis, materialis dan mata duitan sangat lekat terlontar dari lidah politisi dan birokrat yang tak memiliki nalar sosial secara utuh, padahal kalau dilihat secara seksama tentu pertanyaannya akan lain yaitu ”siapakah yang menuai bobroknya moralitas serta akar dari semua jahiliyyah baru ini”?

Bila digambarkan secara utuh, kondisi sosial sekarang seperti dua perang dahsat dalam sejarah islam klasik. Perang Badar sebagai simbol kemenangan Islam dimana 300 prajurit kaum muslimin menang melawan 10.000 kaum kuraisy yang lengkap dengan amunisi perang. Kemenangan itu digambarkan dengan iringan alunan shalawat badar oleh perempuan dan anak-anak yang sering kita dengar sya’ir thala’al badru ’alaina-minsyaniyyatil wada……

Yang kedua adalah sejarah kelam perang Uhud disa’at kaum muslimin dalam posisi setrategis dan jumlah prajurit serta amunisi yang sangat kuat. Namun pada kenyataannya umat Islam bisa dikalahkan sehingga 70 penghafal al-qur’an mewnjadi syuhada.

 

Materialisme modal kekalahan.

Kekalahan Islam dalam perang uhud bukan karena lemahnya pasukan namun karena pasukan umat Islam terbius gemerlapnya ghanimah [harta rampasan perang]. Bila berkaca kepada dua sejarah besar itu, sa’at ini masyarakat sedang dihadapkan pada harap-harap cemas seperti perang dahsyat berkelanjutan. Namun pertanyaannya mau seperti apakah perang ini diseting, badarkah atau uhud? Kampanye para cabup-cawabup sebagai bentuk meraih simpati masyarakat dilakukan dengan beragam cara dari yang mulia sampai yang hina, dari pendidikan politik hingga penghardikan politik. Menang atau kalah perbuatan para caleg dan juga konstituen atau masyarakat tentu ada konsekwensinya antara baik dan buruk.

Pendidikan politik dengan membagi-bagikan uang recehan menurut ajaran manapun merupakan perbuatan tidak terhormat dan akan menjauhkan diri dari rahmat dan tidak mendidik. Begitupun pertimbangan pilihan politik masyarakat dengan ukuran uang recehan adalah dua mata pedang yang akan menghunus dirinya sendiri sehingga yang terjadi adalah seperti perang uhud yang menyakitkan kita sendiri.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan RI kita mengenal perang Paderi di Aceh dimana rakyat yang sangat sederhana dari sisi peralatan perang , sa’at itu tak bisa dikalahkan Belanda yang jauh lebih kuat dan terdidik dari sisi strategi perangnya. Kekuatan itu terpatri dengan kekuatan semangat, keikhlasan niat, serta keluasan spiritual sehingga peluru tak mampu menghancurkannya. Namun kondisinya berbalik ketika senjatanya disimpan dan diganti dengan taburan uang recehan masyarakat aceh sa’at itu bisa dilumat dengan sangat mudah.

Penutup

Dalam paham Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah cinta Tanah Air merupakan setengah dari keimanan (Hubbul wathan minal iman). Salah satu pilar kebangsaan adalah kepemimpinan yang konteks keIndonesiaan kepemimpinan daerah itu dijaring melalui Pilkada. Karenanya memilih bupati-wakil bupati yang Pinter-bener, cageur-bageur, singer tur jujur adalah sebuah kemestian yang nantinya akan membawa kepada kemenangan seperti perang Badar. Amiin..

Kamal al-martawie

3 responses »

  1. mankadul mengatakan:

    kepedulian yang hanya ada saat masa kampanye dan hilang setelah terpilih atau tidak terpilih adalah sesuatu yang patut dipertanyakan..

  2. heri sugi mengatakan:

    resiko jadi jlma leutik….ngan katincak jeung katincak…hahey..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s