Kehidupan pedesaan identik dengan kesederhanaan dan keheningan, namun di sisi lain ketertinggalan dan kegelisahan acapkali membelenggu masyarakat akibat dari kemiskinan structural. Kenyataan ini yang dialami masyarakat Tasikmalaya pinggiran. Tingginya angka kemiskinan dan dengan pertambahan anak Drop out SD yang terus memenuhi catatan ranting kering kecamatan Salawu dan sekitarnya yang acap kali jadi cibiran identitas ketertinggalan sebagai kampung jauh ka bedug. Baju tak berkancing, pejalan tak bersendal, masyarakat jorok modol dan identitas kelam lain selalu menggelanyut di sana.
Itu sebelum tahun 2006, tempat mereka bermimpi melas yang sering diseret kejamnya penguasa atas masuknya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) yang memperparah kondisi alam Salawu selatan menjadi kerontang. Kini tempat tersebut bertukar rupa menjadi oase yang merangsang tunas, hijau berbunga  dengan taburan benih generasi widiya agricultur dan generasi ngalogat yang hendak menatap masa depan lebih cerah. Di sana berdiri tempat yang menyenangkan, dari pagi hingga malam lengking keras keinginan belajar mengalun berkumandang.
Jendela  itu bernama AL-Madaniyah yang berarti peradaban atau  kemandirian civil yang rintisannya terhembus sejak 2002 dan tahun 2007 dibadan hukumkan. Lokasinya berada di Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya sekitar 4 KM dari pusat Kecamatan. Di sini anak-anak dan masyarakat yang semula tak berfikir sekolah kini mulai mengukir cita-cita dari pintu jendela Al-madaniyah ini. Mereka dapat menggali dalamnya pengetahuan tanpa mahalnya biaya dan rigidnya seragam.

Tak ada batas usia dan latar belakang semuanya bekerja sama, sama-sama membangun sekolah.

Berawal dari Keterbatasan

Pada tahun 2005, kami pernah melakukan penelitian jumlah siswa drop out Sekolah Dasar di Kab Tasikmalaya dan menempatkan Kecamatan Salawu berada pada rengking pertama dari 39 Kecamatan se Kab Tasikmalaya disusul 3 kecamatan lain yaitu Kadipaten, Mangunreja, dan Gunungtanjung. Fenomena tersebut diakibatkan beberapa hal : Pertama karena persoalan klasik yaitu keterbatasan ekonomi yang hanya bertumpu pada buruh tani dan pengrajin anyaman bambu, Kedua adanya kungukungan dan pengaruh adat Naga yang memiliki rangkaian sanada adat  walaupun saat ini Naga sudah mulai berbenah. Tiga tidak tersedianya lembaga pendidikan dan sulitnya akses jalan yang hanya bisa dijangkau ojeg dengan ongkos Rp. 20.000,- per hari. (Kamal al-Martawie-mantan ketua PMII Kepala SMK al-Madaniyah)

Dulu yang menjadi pembuka di sini adalah  PKBM yang dirntis untuk masuk ke dalam persoalan masyarakat khususnya dibidang pendidikan sekitar. Bayangkan saja di sini sa’at itu gak ada orang yang berkesempatan sekolah tinggi, bahkan kepikiranpun enggak, yang jadi sarjana sampai 2007 gak ada. (Ruslan Suparlan, Kepala SMP al-Madaniyah)

Sejak 21 April 2007 beberapa pemuda 25 tahunan berunding dan memediasi seluruh masyarakat untuk mencari alternative persoalan dengan mengukuhkan diri membangun Yayasan Almadaniyah yang akan menjadi payung dan motor gerakan. SMP al-Madaniyah, TK al-Madaniyah serta Madrasah Diniyyah mulai digulirkan dengan menempati ruangan bilik bambu yang secara bersama-sama disulap masyarakat dari rumah tak berpenghuni menjadi ruang multi fungsi. Ruangan tersebut berukuran 5×5,5 m sebanyak 5 ruangan berjubel antara murid dan guru yang sering kali membuat nafas sesak

Ruang Kelas tempat mereka menatap masa depan, walau dengan bilik bambu dan duduk berdesakan.

 

Satu siswa tanam 1 pohon

Kegiatan Menanam pohon dan Observasi

Ada hal yang berbeda dari sekolah lain, bahwa di al-Madaniyah dari mulai TK, SMP sampai SMK semuanya diwajibkan untuk menanam 1 pohon untuk 1 siswa. Selain di areal sekolah program tersebut dilaksanakan di hutan lestari padepokan milik masyarakat adat Kampung Naga yang dilaksanakan setiap pelaksanaan Masa Ta’aruf Almadaniyah (MaTa) atau MOS.  Selanjutnya pada materi ajar muatan lokal juga dimasukan kurikulum Lingkungan hidup. Hal lain yang menjadi identitas pendidikan kami adalah kurikulum kepesantrenan dimana semua siswa mendapatkan pelajaran layaknya santri seperti ngalogat kitab kuning, baca al-Qur’an setiap awal belajar dan dluha bersama. Bahkan kami memadukan PKN dengan kitab akhlaqul banin menjadi PKN dan Budi pekerti untuk siswa SMK. Hal ini dimaksudkan untuk mengganti kesempatan dan kebutuhan mereka untuk belajar agama namun terampas karena belum memiliki  asrama. Tapi kami gak mau berhenti di situ….. (Ujang Ruhimat, ketua Yayasan).

Kegiatan Keagamaan di SMP Al-Madaniyah

 

Menyulam  Pendidikan Gratis
Ada harapan terpampang ketika pemerintah melalui mendiknas mengatakan bahwa untuk pendidikan dasar di Indonesia gratis. Namun bagi fihak sekolah yang juga seperti kami, ungkapan tersebut adalah arogansi personal yang kenyataannya membunuh masyarakat dan fihak penyelenggara pendidikan. Masyarakat mungkin merasa terbantu dengan program tersebut, namun ada hal yang tergadaikan dari nilai dan substansi pendidikan itu sendiri yaitu hilangnya rasa memiliki dan berkontribusi. Selain itu siswa didik pun dikhawatirkan akan menurun etos belajarnya. Kami pun mencoba menjawabnya, maka setiap siswa kami beri polly bag untuk media menanam dan harus mereka sumbangkan untuk biaya mereka belajar. Walau tak bermaksud jumawa siswa didik kami sudah berhasil menembus pertanyaan dirinya dan sekitarnya dengan beberapa prestasi akademik sebagai juara lomba olimpiade dan lomba lainnya. Jangan berhenti bermimpi!!!!!!

4 responses »

  1. Vian mengatakan:

    Jangan pernah menyerah,Maju terus….!

  2. myun mengatakan:

    terima kasih postingannya ya..
    salam kenal…
    kunjungi juga blog saya fakultas teknik unand

  3. […] Meski berniat baik, kiprah Ruslan tersebut tidak lepas dari nada sumbang. Sebagian kalangan sempat meragukan eksistensi SMP Al Madaniah. Seorang pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, mengatakan bahwa dua bangunan semipermanen SMP Al Madaniah adalah kandang bebek. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s