Membaca Surat Kabar harian lokal Tasikmalaya tertuang berita jenaka adanya rengrengan Ajengan Desa dan pupuhu Ormas yang mendukung salah satu balon kontestan Pilkada Kab Tasikmalaya yang ditimpali berkali-kali oleh penulis muda, Usep Saeful Kamal (radar 09-Mei) sebagai dagelan politik yang lupa bahwa dirinya sebagai figur yang diajeng-ajeng, juga lupa memetakan bahwa masyarakat itu plural yang kemungkinan akan memiliki pilihan politik berbeda”.

Secara pribadi dan komunitas masyarakat bawah, penulis berharap kondisi rigid dan rasa kebekuan tersebut segera tersublimasi menjadi dendang politik ajengan bukan ajengan  politik. Entahlah……, namun  penulis jadi teringat kembali apa yang menjadi celotehan kang Acep Zam-Zam Noor penyair jebolan pesantren terkemuka Tasikmalaya yang melukiskan Pesantren-Kabayan dan Kesundaan dalam bingkai Islam sufistik yang memiliki sinergitas untuk mewujudkan harmoni.

Di akhir tulisannya Kang Acep melukiskan  kerinduan akan maestro Sunda yang dinamakan Kabayan untuk memimpin masyarakat bangsa ini. Karakteristik Kabayan menurut  Kang Acep diistilahkan dengan Kabayan jadi sufi yaitu Kisunda yang memiliki nalar ke-islaman yang rahmatan lilalamin atau Universalistik, membudaya (integral dengan masyarakat, akrab dengan tradisi), cerdik cendikia, sedikit “lugu” (rendah hati), dan humoris adalah karakteristik pemimpin yang dinantikan.

Sejalan dengan Kang Acep, Doel Sumbang seniman Sunda pun mengakui bahwa kabayan itu ikon Sunda yang jenaka, sang anak angon, jujur, polos, sakti dan konyol. Masyarakat Sunda termasuk di dalamnya Tasikmalaya mau atau tidak sesungguhnya sudah menerima beragam warisannya seperti pesantren dan ormas yang melanggengkan sikap Kabayan tadi walaupun setelah berevolusi yang tersisa hanyalah sikap yang terakhir (konyol) seperti yang terjadi pada kasus di atas.

Ujaran “kamarana urang sunda, araya keneh”? kata Kang Doel, dan “Di tengah krisis kepemimpinan serta ruwetnya dunia perpolitikan kita, maka membaca dan menghayati kembali makna yang terkandung dalam cerita si Kabayan menjadi sangat penting. Kata kang Acep, sejatinya  bukan hanya lantunan dua insan Sunda yang sedang mencari Guru Mursyid dalam karakter Kabayan, namun keduanya sedang jadi wawakil untuk ngahaleuangkeun dan melukiskan sya’ir kesungguhan warga Pasundan khususnya warga Galunggung untuk memiliki dan menawarkan  pemimpin dan kepemimpinan bangsa ke depan.

 

Pesantren dan kepemimpinan sosial

Thesis yang menuturkan laku Kabayan dengan segala keanehan dan pikasebeleun-nya adalah sebagian dari pola laku Kyai pesantren salafiyah yang bisa dibenarkan untuk sebagian dan dalam waktu tertentu yaitu pesantren tempo dulu, hanya saja dalam konteks kekinian telah tergambarkan ia tak lagi sebagai simbol masyarakat agrareligious yang menghuni tegalan pasantren namun sedang berevolusi saba kota. Kabayan kontemporer jarang membuat Abah beureum beunget dengan mencari perhatian kemesraan demi sebuah eksistensi, bahkan  Kabayan sering beralibi bahwa semua itu dilakukan demi membahagiakan Nyi Iteung (masyarakat) walaupun pada kenyataannya Iteunglah yang merah muka hingga membuat ia merana dan kesepian.

Mungkin Didi Petet pemeran Kabayan belum memerankan Kabayan Pulang Kampung lagi setelah perjalanan saba kota hingga akhirnya ia betah di swalayan dan di parlemen yang penuh dagelan, tipuan dan kekerasan. Kabayan kini sedang dihadapkan dengan sistem borjuisme, sektarianisme dalam suguhan intrik dan janji basa basi hingga menemukan sebuah warid opportunisme.

Dari persfektif lain Zainal Abidin Bagir PhD Direktur Eksekutif Center For Religious and Cross-Cultural Studies, UGM Jogjakarta menuturkan harapannya agar kondisi seperti ini terjadi sebagai proses evolusi sosial menuju kesadaran plural sehingga nanti akan didapatkan sebuah dinamisasi dan akulturasi intelektual, moral dan spiritual yang menurut istilah pesantren disebut dengan ma’rifat.

Kema’rifatan Kabayan (Kyai pesantren)  tentu tak kan terpisahkan dari Iteung (masyarakat) yang dulu telah ikrar bersama, dan hari ini sedang cemas menanti menunggu guyonan, petuah renyah, perhatian dengan menggunakan kemampuan khowarikun lil adatnya mampu merubah kebuntuan dengan cara yang santun.

 

Modal Kemampuan Pesantren Memimpin

Menganalogikan dan mengkomparasikan Kabayan dengan pesantren memang tak seluruhnya pas namun paling tidak ada titik kesamaan yang memungkinkan berjalan secara beriringan dan kenyataannya menunjukan bahwa budaya pesantren identik dengan kultur agraris. Nusantra sebagai bangsa agraris tentu dapat dikendalikan dan diurus oleh pemimpin yang memiliki nalar dan orientasi agrireligio cultural seperti ajengan.

Kepemimpinan memang tidak selamanya identik dengan kekuasaan struktural, namun lebih kepada kemampuan mengayomi, mempertahankan, mengendalikan dan mengakses kemanfaatan kepada khalayak. Pesantren akan tetap menjadi idola dan harapan masyarakat bila memiliki beberapa modal memimpin seperti yang telah diajarkan oleh para pendahulu:

Pertama, memiliki orientasi kultural atau istilah pesantren maslahah mursalah (kemaslahatan bersama). Cita-cita tersebut harus ditunjang kemampuan menguasai bahasa cultural (language cultural skill) yang bisa dipahami oleh semua masyarakat. Indonesia bukan Arab juga bukan Ameriaka kalupun di kota sempat makan spagety, korma dan makanan lain namun itu hanya sebatas bahan komparasi tidak sampai kokomoeun.

Kaidah al-muhafadlotu alal qodimi shalih wal akhdu bil jadidil aslah (melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik) akan menjadi tonggak dasar konsistensi (istiqomah) mempertahankan identitas hazanah pesantren, inklusif, toleran (tawazun) atas perubahan dan perkembangan masyarakat yang plural dan bergerak bebas. Lain lagi bila kaidah itu dibalik menjadi al-akhdu biljadidil aslah walmuhafadlotu alalqodi assolih tentu yang terjadi akan lain yaitu invasi yang rakus, makmak-mekmek, kokomoeun. Menurut papagon (falsafah) Sunda diistilahkan dengan moro julang ngaleupaskeun peusing- lamun teu kamerekaan nya kalaparan.

Kedua, memiliki kemampuan ngangon (daya gembala), ngemong, dan merangkul, membimbing serta mensejahterakan masyarakat dari semua kalangan, semua warna, semua level dengan penuh kasih sayang. Kita sering dihadapkan dengan pemimpin yang menekan, menakut-nakuti dengan berdalih konstitusi, ayat suci-lah, sunnah rasul-lah dll yang berujung menodai, merampas, membinasakan hak dan martabat yang lain. Munculnya masyarakat bringas gaya Arab wahabisme yang selalau melegitimasi kecongkakannya atas nama Tuhan merupakan bagian dari proses reduksi keislaman, tentunya pesantrenlah yang cakap meluruskannya. Keluasan intelektual, moral dan spiritual melalui penguasaan teks, sejarah dan tafsir kontekstual mesti dimiliki pesantren.

Sebentar lagi media takkan menyuguhkan khabar menghawatirkan seperti kabayan kokomoeun namun munculnya halqoh syiayasah ijtima’iyyah tentang kepemimpinan ideal berkarakter Kabayan makrifat yang renyah, cerdas, mampu ngangon dan memiliki kemampuan luar biasa.  Khabar itu muncul dari pesantren rumahnya Kabayan ma’rifat yang sederhana namun fungsional. Bagi masyarakat ajengan jauh lebih terhormat dan pantas diajeng-ajeng dibanding kepala pemerintahan daerah. Bukannya masih banyak PR bersama yang harus digugulung selain PILKADA.

 

Kamal al-Martawie

Koordinator Lestari Institute

Warga Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s