SMK Al-Madaniyah On Jawa Pos

Jawa Pos / JPNN (Jawa Pos National Network)
Edisi Kamis 23 Februari 2012

“Kiprah SMK Pertanian Al-Madaniyah Melawan Ancaman Kepunahan Petani”

Digunjing Tetangga Karena Sekolah Bawa Cangkul

Jumlah petani terus tergerus zaman. Nah, SMK Pertanian Al-Madaniyah muncul untuk mencetak petani-petani baru. Sekolah di pedalaman Tasikmalaya, Jawa Barat, itu bertekad meneruskan generasi petani yang terancam putus.

M. HILMI SETIAWAN, Tasikmalaya

LOKASI SMK Pertanian Al-Madaniyah cukup tersembunyi. Lokasinya berada di lembah, di antara sejumlah gunung di Kampung Cibuleud, Tasikmalaya. Jarak kampung itu dengan pusat Kabupaten Tasikmalaya sekitar 20 kilometer, melewati jalan setapak yang terjal dan berbatu.

Sekolah tersebut jauh dari kesan mewah. SMK Pertanian Al-Madaniyah terdiri atas dua ruang kelas sederhana. Masing-masing ruang berukuran 8 x 9 meter. Ruang pertama digunakan untuk siswa kelas XI. Sedangkan kelas satunya lagi dipakai siswa kelas X. Ruang kelas X disekat menjadi dua. Satu bagian digunakan untuk ruang guru.

Meskipun terbatas, Kepala SMK Pertanian Al-Madaniyah Kamal Almartawi mengatakan, pihaknya tidak melupakan ketersediaan laboratorium pertanian. “Laboratoriumnya ya sawah dan kebun di sekitar sekolah,” katanya. Total area persawahan dan perkebunan yang dijadikan tempat praktik para siswa sekitar 1 hektare.

Kamal sedang mengupayakan untuk bisa menggunakan tanah aset desa yang mangkrak seluas 25 hektare. Pria kelahiran Tasikmalaya, 7 Januari 1980, itu berharap agar tanah aset desa tersebut bisa dipinjam untuk tempat praktik siswa SMK Pertanian Al-Madaniyah.

Pengelola sekolah sadar bahwa mereka berada di tengah perkampungan yang didominasi penduduk kurang mampu. Sebagian besar kepala keluarga di kampung itu adalah buruh tani. Dengan kondisi tersebut, Kamal dan pengelola sekolah tidak bisa menarik SPP kepada para siswa. Sekolah akhirnya memutuskan bahwa siswa tidak dipungut biaya sepeser pun.

Meskipun begitu, Kamal tidak mau sekolahnya disebut menggratiskan SPP. “Kalau istilahnya gratis, nanti pendidikannya ala kadarnya. Pendidikannya bisa menjadi murahan,” tegasnya. Karena itu, mereka memakai istilah investasi. Seluruh siswa wajib berinvestasi.

Bentuk investasi itu bukan uang. Tetapi, tenaga dan pikiran. Investasi tenaga digunakan saat para siswa menanam sayuran, pepohonan, buah-buahan, dan padi. Sementara itu, investasi pikiran digunakan saat mereka belajar di ruang kelas yang terbatas tersebut.

Kamal menceritakan, para siswa di sekolahnya tidak hanya menerima materi atau teori tentang pertanian di dalam kelas. Mereka justru lebih banyak praktik langsung. Alhasil, para siswa harus rela berlepotan lumpur saat menanam padi. Ikut mencangkul ketika membuat saluran irigasi. Hingga menyemai benih papaya dan pohon sengon.

Kamal selalu mengingatkan para siswa bahwa kegiatan praktik adalah salah satu bentuk investasi tenaga. Karena itu, hasilnya akan kembali juga kepada siswa.

Contohnya, ketika benih pohon sengon sudah agak besar dan siap jual, para siswa mendapat jatah untuk menjualnya. Biasanya dijual ke tetangga atau pasar tradisional. Nah, hasil penjualan dibagi dua. Pertama untuk para siswa, sebagian lainnya masuk kas sekolah.

Uang hasil panen pepohonan yang masuk ke sekolah digunakan untuk menutup biaya operasi sehari-hari. Dengan demikian, para siswa tidak lagi harus membayar SPP atau pungutan lainnya.

Untuk sementara, produksi pohon sengon sedang istirahat. Sebab, Kampung Cibuleud sedang mengalami krisis air. Sedangkan sumber air jauh berada di bawah lokasi sekolah itu. Mereka kekurangan biaya untuk memompa air guna menyiram benih-benih pepohonan.

Akhirnya, produksi pertanian beralih di pepaya california made in akademisi IPB (Institut Pertanian Bogor). Saat ini ada sekitar 200 pohon pepaya california. Setiap butir pepaya california berbobot hingga 1,5 kg. “Kata warga, pepaya hasil panen sekolah kami lebih manis daripada yang di pasar,” tutur Kamal.

Selain itu, mereka mulai mengembangkan bercocok tanam tomat hibrida atau disebut tomat Mio F1, kangkung darat, dan kacang-kacangan. Selain itu, mengembangkan tanaman padi dengan sistem SRI (system of rice intensification) di sawah seluas 100 x 50 meter.

Kamal mengungkapkan, menanam padi dengan sistem SRI sedang in. Sistem itu lebih ramah lingkungan ketimbang menanam padi secara konvensional. Padi yang dihasilkan pun lebih berkualitas. “Doakan saja panen perdana nanti menghasilkan padi maksimal,” tutur lulusan Institut Agama Islam (IAI) Cipasung tersebut.

Tantangan lain sekolah itu adalah sulit mencari siswa baru. Meski SMK Pertanian Al-Madaniyah menjadi sekolah menengah atas pertama dan satu-satunya di Kampung Cibuleud, Kamal mengatakan masih perlu promosi ke warga kampung. Sebab, rata-rata anak yang lulus SMP ogah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kamal pun harus rela mengunjungi orang tua calon siswa demi mempromosikan SMK Pertanian Al-Madaniyah.

Hasilnya, Kamal justru mendapatkan cibiran. “Orang tuanya sudah menjadi petani. Masak anaknya jadi petani juga,” ucap Kamal yang menirukan ejekan tetangganya kala itu.

Namun, Kamal tak patah semangat. Dia bertekad bahwa siswa usia SMA di kampungnya harus bersekolah. Jangan sampai putus. Setelah memutar otak, dia memiliki ide promosi baru. Yakni, mengubah nama SMK pertanian menjadi SMK agronomi. Jadilah kemudian SMK Agronomi Al-Madaniyah.

“Ternyata benar. Istilah itu lebih keren bagi calon wali murid,” tutur Kamal. Dia mengakui, ada sedikit unsur berbohong dalam pola promosi baru tersebut. “Tapi, berbohongnya menjadi jalan menuju surga. Ha ha ha” ucapnya.

Perjuangan para siswa tidak mudah. Saat menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah dengan memanggul cangkul, mereka digunjing oleh para tetangga dan teman sebaya yang tidak bersekolah. “Kalau mau nyangkul, tidak usah ke sekolah. Buat apa ke sekolah kalau nanti berlepotan lumpur juga,” ungkap Kamal yang menirukan gunjingan tersebut.

Kamal pun turun tangan. Dia membesarkan hati para siswanya. Dia mengatakan, yang disebut orang hebat itu adalah orang yang berbeda dari orang lain. Berbeda tentu dalam hal yang baik. “Kalian beda karena bisa sekolah. Sedangkan tetangga atau teman kalian tidak,” tegas Kamal kepada para siswa.

Sampai saat ini SMK Pertanian Al-Madaniyah baru memiliki dua kelompok belajar. Yaitu, kelas X dan kelas XI. Pendirian sekolah itu merupakan inisiatif dari Ruslan Suparlan, pemuda yang diklaim menjadi sarjana pertama dari Kampung Cibuleud.

Dia mengembangkan SMK dengan berbekal sebidang tanah milik almarhum ayahnya, Suparman. “Sebelum ada SMK, saya mendirikan SMP dulu (SMP Al-Madaniyah),” jelas pria kelahiran Tasikmalaya, 16 Agustus 1978, itu.

SMK yang berdiri di atas tanah seluas 2.800 meter persegi tersebut muncul dari keresahan Ruslan. Saat lepas pisah dengan siswa SMP Al-Madaniyah pada 2006, hanya tiga di antara 37 siswa yang angkat tangan sebagai tanda niat melanjutkan ke SMA atau sederajat. Sisanya diam dan memilih tidak melanjutkan. Alasannya, SMA yang paling dekat berada 10 kilometer dari Kampung Cibuleud.

Ruslan yang juga pengajar di SMK Pertanian Al-Madaniyah berharap agar sekolah itu bisa terus hidup. Dengan demikian, ancaman kepunahan petani di kampungnya bisa dicegah. (*/c10/ca).

Sumber : Jawa Pos / JPNN (Jawa Pos National Network)

Al-Madaniyah di SCTV (Liputan 6 siang / sosok)

Yudhi Wibowo
Minggu 12/02/2012
Liputan6.com, Tasikmalaya:

Merintis Pendidikan Gratis

Menggapai cita cita bukanlah sekadar impian. Inilah energi tersimpan di Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Laki-laki perempuan, tua muda bersatu padu meratakan bukit membuka jalan untuk mewujudkan sekolah.

Desa yang hanya berjarak 12 kilometer dari pusat kota Kabupaten Tasikmalaya ini, memang tercatat sebagi salah satu daerah tertinggal. Untuk bersekolah saja warga harus menempuh perjalanan jauh melintasi bukit dan jalan rusak.

Klik Baca Selengkapnya

Pelita Online – Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon

Pelita Online – Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon.

Jumat, 11 November 2011

SMK Agronomi Al-Madaniyah Cibuleud Salawu

Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon

KEBANYAKAN anak-anak muda setelah lulus dari perguruan tinggi pola pikirnya menjadi pegawai negeri. Alasannya supaya hidup mapan dan terjamin lahir dan batin. Berwirausaha atau pulang kampung membangun ‘lembur kuring’ sudah menjadi pilihan langka bagi anak-anak muda sekarang. Bahkan, tidak sedikit dari anak muda yang sarjana, lebih baik menganggur daripada menjadi petani yang harus memegang cangkul. Mereka sudah dininabobokan oleh kehidupan hedonisme kota dan gaya hidup hardolin.Segelintir anak-anak muda dari Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tidak mau dicap hardolin.

Majalah KARSA “PANGGILAN JIWA”

SMK PERTANIAN AL-MADANIYAH

PANGGILAN JIWA

Mengajar dan Membangun Sekolah

Majalah Karsa Edisi Hari Kemerdekaan No. 02 Tahun I Agustus 2011

Budidaya Tomat

PENDAHULUAN
Sejarah penyebaran tomat

Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian yaitu xitomate atau xitotomate. Tanaman tomat berasal dari negara Peru dan Ekuador, kemudian menyebar ke seluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropik, sebagai gulma. Penyebaran tanaman tomat ini dilakukan oleh burung yang makan buah tomat dan kotorannya tersebar kemana-mana. Penyebaran tomat ke Eropa dan Asia dilakukan oleh orang Spanyol. Tomat ditanam di Indonesia sesudah kedatangan orang Belanda. Dengan demikian, tanaman tomat sudah tersebar ke seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik.

Manfaat Tanaman

Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan.

Syarat Pertumbuhan

Iklim
Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 750 mm-1.250 mm/tahun. Keadaan ini berhubungan erat dengan ketersediaan air tanah bagi tanaman, terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi teknis. Curah hujan yang tinggi (banyak hujan) juga dapat menghambat persarian.
Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan dicapai apabila pencahayaan selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Pembibitan

Persyaratan Benih

Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi biji/benih tanaman tomat adalah:

a) Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh.

b) Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit.

c) Benih atau biji bersih dari kotoran.

d) Pilih benih atau biji yang tidak keriput.

Penyiapan Benih

Pengadaan benih tomat dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara membeli benih yang telah siap tanam atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih dilakukan dengan membeli, hendaknya membeli pada toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih-benih yang bermutu baik dan telah bersertifikat.

Teknik Penyemaian Benih

Benih atau biji-biji tomat yang telah terpilih sebelum disemaikan didesinfektan. Caranya, dengan merendam benih kedalan larutan fungisida agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati. Ada beberapa cara menyemai pada bedeng persemaian. Cara pertama, benih tomat ditaburkan merata pada permukaan bedeng, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Bedeng dibuat guritan sedalam 1 cm dengan jarak antar guritan 5 cm, lalu biji ditaburkan kedalan guritan secara merata dan tidak saling tumpuk, kemudian ditutup kembali dengan tanah tipis-tipis. Cara kedua, dengan menanamkan benih pada lubang-lubang tanam yang dibuat dengan jarak 5 cm dan kedalaman lubang tanam sekitar 1 cm. Dalam satu lubang tanam dapat diisikan 1 atau 2 benih, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Cara ketiga, penyemaian dapat langsung dilakukan pada kantong-kantong polybag yang telah diisi media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setiap kantong polybag diisi satu benih saja dan tanamkan benih dengan kedalaman sekitar 1 cm. Setelah biji ditanam, media semai sebaiknya dibasahi dengan air.

Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

Selama awal pertumbuhan, pemeliharaan bibit tanaman di persemaian harus dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinyu. Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan-kegiatan:

Penyiraman
Penyiraman dilakukan sejak benih ditaburkan ke bedeng pesemaian sampai tanaman siap dipindah ke kebun. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat/gembor yang memiliki lubang halus, agar tidak merusak bibit tanaman yang sudah atau baru tumbuh.

Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan cara langsung mencabuti tanaman pengganggu tanpa peralatan. Penyiangan sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat keadaan tanaman.

Pemupukan
Pada media persemaian selain diberikan pupuk kandang, sebaiknya juga diberikan pupuk kimia NPK secukupnya sebagai pupuk tambahan yang diberikan setelah benih tumbuh menjadi bibit.

Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit
Hama yang umumnya menyerang benih atau bibit di pesemaian berasal dari golongan serangga, seperti semut dan golongan nematoda, seperti cacing tanah. Penyakit yang sering menyerang dari golongan cendawan. Untuk mencegah berkembangnya hama dan penyakit dapat dilakukan sterilisasi tanah. Untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang dapat disemprotkan obat-obatan. Insektisida untuk memberantas hama dari golongan serangga dan fungisida untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur. Nama-nama formulasi yang dapat digunakan antara lain Furadan 3 g, Dithane Hostathion dan Antracol.

Pemindahan Bibit

Bibit tomat dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 30-45 hari di persemaian. Pada saat dilakukan penanaman ke kebun, sebaiknya dilakukan lagi terhadap bibit-bibit yang telah berumur 30-45 hari agar diperoleh tanaman yang baik pertumbuhannya dan memiliki daya produktivitas tinggi dalam menghasilkan buah. Untuk itu, bibit yang dipilih sebaiknya yang berpenampilan menarik dan baik., yaitu penampakannya segar dan daun-daunnya tidak rusak. Pilihlah bibit yang kuat, yaitu tegak pertumbuhannya dan pilihlah bibit yang sehat, artinya bibit tidak terserang hama dan penyakit.

Waktu yang baik untuk menanam bibit tomat di kebun adalah pagi atau sore hari. Pada saat itu keadaan cuaca belum panas sehingga mencegah kelayuan pada tanaman.
Ketika memindah bibit di kebun, hendaknya memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati.

Pemupukan

Pemupukan bertujuan merangsang pertumbuhan tanaman. Tata cara pemupukan adalah:

1. Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu setelah ditanam, harus segera diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman.
2. Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak ± 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan dalamnya ± 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air.
3. Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh yaitu ± 7 cm.

Penyiraman dan Pengairan

Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian menyebabkan kerontokan bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah).

Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan.

Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm, tergantung dari varietasnya. Untuk penanaman dalam green house yang modern dapat menggunakan tali (warna putih) seperti yang terlihat dalam gambar sebelah.
Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka. Jarak ajir dengan batang tomat ± 10-20 cm.
Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah.
4. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi ± 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak.

Panen

Ciri dan Umur Panen

Pemetikan buah tomat dapat dilakukan pada tanaman yang telah berumur 60-100 hari setelah tanam tergantung pada varietasnya. Varietas tomat yang tergolong indeterminatre memiliki umur panen lebih panjang, yaitu berkisar antara 70-100 hari setelah tanam baru bisa dipetik buahnya. Penentuan waktu panen hanya berdasarkan umur panen tanaman sering kali kurang tepat karena banyak faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti: keadaan iklim setempat dan tanah. Kriteria masak petik yang optimal dapat dilihat dari warna kulit buah, ukuran buah, keadaan daun tanaman dan batang tanaman, yakni sebagai berikut :

a) kulit buah berubah, dari warna hijau menjadi kekuning-kekuningan.

b) bagian tepi daun tua telah mengering.

c) batang tanaman menguning/mengering.

Waktu pemetikan (pagi, siang, sore) juga berpengaruh pada kualitas yang dipanen. Saat pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi atau sore hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari dari segi teknis kurang menguntungkan karena pada siang hari proses fotosintesis masih berlangsung sehingga mengurangi zat-zat gizi yang terkandung. Disamping itu, keadaan cuaca yang panas di siang hari dapat meningkatkan temperatur dalam buah tomat sehingga dapat mempercepat proses transpirasi (penguapan air) dalam buah. Keadaan ini dapat dapat menyebabkan daya simpan buah tomat menjadi lebih pendek.

Cara Panen

Cara memetik buah tomat cukup dilakukan dengan memuntir buah secara hati-hati hingga tangkai buah terputus. Pemutiran buah harus dilakukan satu per satu dan dipilih buah yang sudah matang. Selanjutnya, buah tomat yang sudah terpetik dapat langsung dimasukkan ke dalam keranjang untuk dikumpulkan di tempat penampungan. Tempat penampungan hasil panen tomat hendaknya dipersiapkan di tempat yang teduh atau dapat dibuatkan tenda di dalam kebun.

Periode Panen

Pemetikan buah tomat tidak dapat dilakukan sampai 10 kali pemetikan karena masaknya buah tomat tidak bersamaan waktunya. Pemetikan buah tomat dapat dilakukan setiap selang 2-3 hari sekali sampai seluruh tomat habis terpetik

Pelita Online – Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon

Pelita Online – Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon.

Biaya Operasional Sekolah dari Pohon Sengon

KEBANYAKAN anak-anak muda setelah lulus dari perguruan tinggi pola pikirnya menjadi pegawai negeri. Alasannya supaya hidup mapan dan terjamin lahir dan batin. Berwirausaha atau pulang kampung membangun ‘lembur kuring’ sudah menjadi pilihan langka bagi anak-anak muda sekarang. Bahkan, tidak sedikit dari anak muda yang sarjana, lebih baik menganggur daripada menjadi petani yang harus memegang cangkul. Mereka sudah dininabobokan oleh kehidupan hedonisme kota dan gaya hidup hardolin.

Segelintir anak-anak muda dari Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tidak mau dicap hardolin. Setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka melihat kampung halamannya masih miskin dan terbelakang. Anak-anak muda ini melihat ada potensi besar yang bisa dikembangkan di kampungnya.

Salah satu anak muda ini yaitu Taopik Sopyan, bersama rekan-rekannya mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian dan Holtikura Agronomi Al-Madaniyah di Kampung Cibuleud. Tahun 2001, adalah awal mula berdirinya Al-Madaniyah sebagai cikal bakal komunitas anak muda yang peduli pendidikan.

Al-Madaniyah berarti peradaban atau kemadirian masyarakat. Al-Madaniyah bervisi menjadi laboratorium dan lumbung generasi pertanian 2013. Di sini anak-anak dan masyarakat yang semula tak berfikir sekolah kini mulai mengukir cita-cita dari pintu jendela Al-madaniyah ini. Mereka dapat menggali dalamnya pengetahuan tanpa mahalnya biaya dan mewahnya seragam sekolah. Sementara moto sekolah yaitu ‘Pinter Bener-Singer Bageur’
Taopik Sopyan yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan kepada Pelita kemarin mengatakan, SMK Agronomi Al-Madaniyah saat ini membuka dua jurusan yaitu Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikulta (Perkebunan dan Sayur-sayuran).

“Selain membudidayakan tanaman Sengon, anak-anak sekolah pun diberikan kemampuan bercocok tanam sayur sayuran, papaya, termasuk pengembangan Pepaya California,” katanya.
Bahkan, ujar Sofyan, untuk lebih memperdalam kemampuan para siswa dalam pertanian, SMK Agronomi Al-Madaniyah mengkhususkan satu hari dalam seminggu untuk praktik di kebun-kebun pembibitan yang ada di sekolah.

Bila sekolah lain beragam dalih dan akal bulus dikemukakan untuk mengutip biaya pendidikan, tapi satu hal yang perlu dicontoh dari SMK Al-madaniyah, sampai sekarang tidak memungut biaya pendidikan kepada para siswa sepersen pun.

“Biaya operasional sekolah diperoleh dari hasil penjualan tanaman sengon, sayur-sayuran dan pepaya yang diolah para siswa. Kebanyakan siswa berasal dari keluarga tidak mampu sehingga siswa tidak dipungut biaya pendidikan, ” ungkapnya. (encep azis muslim)

Sumber : www.pelitaonline.com

TEMAN – TEMAN MEMANGGILKU “ MANG SUBHAN”

TEMAN – TEMAN MEMANGGILKU “ MANG SUBHAN”

 
 
Husni Mubarok (Subhan)
Tasikmalaya 17 Oktober 1992
Alamat  : Jahiang – Salawu – Tasikmalaya, Jawa Barat
Hoby : Menulis dan Cita – citaku : Menjadi guru
Sekolah : SMK AL-MADANIYAH

 

Saya lulus SD jahiang III tahun 2004, karena saya terlahir dikalangan keluarga yang bisa dikatakan kurang mampu, pendidikan saya tidak dilanjutkan ke SMP mengingat biaya dan ongkos transfortasi sehari-hari yang harus dikeluarkan untuk masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama dengan lokasi sekolah sekitar 10 km dari kampung saya. Namun pendidikan saya dilanjutkan ke pesantren disekitar dekat kampung saya, karena biayanya bisa dikatakan terjangkau dengan status ekonomi seperti saya.

Ketika saya menimba ilmu agama di pesantren, saya mendengar ada pendidikan kesetaraan (Program Paket B) program ini diperuntukan bagi siapa saja yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP,  akhirnya saya mendaftar menjadi peserta didik di program Paket B yang dilaksanakan oleh PKBM yayasan Al-Adnan.  Pada tahun 2007 saya lulus dari Paket B, dan saya memutuskan untuk berhenti dari pendidikan pesantren, karena pada waktu itu saya berpikir  “Ingin membantu ekonomi keluarga”.

Pada tahun 2008 saya berangkat ke Tasikmalaya sekitar 35 Km dari kampung saya untuk bekerja di lapak penjualan bunga, oleh pemilik lapak bunga tersebut saya di tempatkan di lokasi yang  jauh dari pemukiman warga dan ditempatkan di gubuk yang hanya berdindingkan bambu dan semua kegiatan dilakukan sendiri, seperti merawat bunga, menyiram bunga, melayani pembeli, masak, makan, dan tidur, semua dilakukan sendiri.

Selama kurang lebih 3 bulan saya bekerja di lapak bunga tersebut, saya memutuskan untuk berhenti dari kerja dan kembali ke kampung halaman, dan untuk mengisi kegiatan sehari-hari di kampung, saya membantu mengajar Sekolah Diniyah. Alakadarnya sih…….mencoba mengamalkan ilmu yang didapat saat di pesantren, walaupun tidak dibayar namun saya senang melakukannya, karena saya bisa mengamamalkan ilmu walaupun sedikit. Mudah-mudahan bermanfaat!..

Rasa ingin membantu ekonomi orang tua terus menjadi pikiran saya setiap waktu. Akhirnya pada tahun 2009,  saya ikut paman ke Pulau Bali, disana saya bekerja sebagai kuli bangunan selama kurang lebih 7 bulan, dan pulang ke kampung menjelang bulan ramadhan.

Dan satu bulan setelah puasa, saya diajak kakak ke Bandung untuk berjualan siomay. Banyak suka dan duka juga pengalaman waktu berjualan siomay di Bandung,  dari mulai cara membuat siomay sampai cara merayu pelanggan..he…he…. Awalnya di Bandung hanya berjualan siomay saja, namun setelah menginjak 3 bulan berjualan, saya mengikuti pendidikan Pesantren Alqur’an  di Jl. Pahlawan bersama kakak saya. “Mengaji sambil berdagang itu lumayan”…….lumayan menguji mental…..he..he…

Contohnya : Pada saat pertama masuk ke pesantren Alqur’an, …kan perkenalan tuh…

Kata ustadz                                         : Nama Bapak / Mas ?

: Bekerja / Kuliah

Peserta yang lain menjawab       : saya kuliah

: saya Guru

: Saya pensiunan

: saya Wiraswasta

Giliran saya di tanya sama ustadz di depan peserta lainnya “ Saya jualan siomay keliling “ …….aduuh…., lumayan mindernya……he..he….

Tapi walaupun begitu, saya tetap percaya diri karena disana yang dinilai bukan pekerjaannya  tapi prestasinya dan saya buktikan bahwa saya bisa mengikuti pendidikan tersebut dengan baik, alhamdulillah setiap naik tingkat /kelas setiap 2 bulan sekali, saya selalu naik tapi teman-teman tidak semuanya naik tingkatt /kelas.

Waktu saya naik tingkat/kelas 3, di pesantren tersebut ada lowongan pekerjaan menjadi Security dan Office Boy, kemudian saya mencoba memasukan surat lamaran kerja di pesantren tersebut, namun karena mungkin surat lamaran kerja yang saya berikan ijazahnya hanya ijazah paket B (setara dengan SMP) saya tidak diterima bekerja di pesantren tersebut.

Setelah 7 bulan berjualan siomay dan mengikuti pendidikan pesantren Alqur’an di Bandung, saya berhenti berjualan siomay dan pulang ke kampung dengan membawa perasaan kecewa dan menyesal, kecewanya karena saya tidak diterima bekerja di pesantren tersebut, dan menyesalnya karena saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi atau SMA.

Kurang lebih 5 hari setelah kepulangan saya dari Bandung, saya mendengar kabar bahwa ada sekolah baru SMK AL-MADANIYAH di Kp. Cibuleud Desa Sundawenang,  yang berjarak kurang lebih 5 Km dari kampung saya dan gratis tanpa di pungut biaya pendidikan, awalnya saya tertarik karena gratisnya itu…dan ternyata memang saya dan teman teman tidak dipungut biaya pendidikan…ya..kecuali untuk keperluan saya sendiri seperti baju seragam, sepatu dan alat tulis lainnya.

selama 1 semester sekolah di SMK AL-MADANIYAH saya memakai celana Jean belel, karena saya belum punya seragam sekolah…

Awal masuk sekolah, saya merasa minder dan malu. mindernya karena pelajaran yang saya pelajari pada waktu paket B kebanyakan sudah lupa, beda dengan teman-teman yang baru keluar dari SMP yang masih fresh, dan malunya itu karena umur saya yang seharusnya sudah masuk ke Perguruan Tinggi bukannya SMK….he..he… Alhamdulillah saya menemukan hal-hal baru, teman-teman baru, pengalaman baru, bahkan keluarga baru di Yayasan Al-Madaniyah.

Banyak cerita yang ku alami di SMK AL-MADANIYAH, namun itu hanya sebagian rintangan dan cobaan yang menghadang, semua itu tak kan bisa menghalangiku untuk meraih impian yang kurangkai dengan harapan.

Banyak kesan-kesan yang kutemukan di SMK AL-MADANIYAH, namun yang paling mengesankan adalah melihat perjuangan guru-guru di Yayasan Al-Madaniyah yang tanpa pamrih memperjuangkan pendidikan dan membantu anak-anak yang keluarganya tidak mampu. Hal tersebut juga yang memotivasi saya dalam menggapai cita-citaku.

Saya Ucapkan terima kasih kepada Bapak/ Ibu guru beserta semua pengurus Yayasan Al-Madaniyah yang telah membangun sekolah di pedesaan yang rata-rata orangtua kami buruh tani, dan banyak yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Semoga Bapak/Ibu guru beserta semua pengurus Yayasan Al-Madaniyah ada dalam lindungan Alloh SWT dalam menjalankan tugasnya memperjuangkan pendidikan. Harapanku  kita semua bisa menjadi orang-orang yang sukses baik di dunia maupun akhirat, dan semoga Yayasan Al-Madaniyah semakin baik dan sukses! amin..

Wilayah Tertinggal yang Ditinggal

oleh:  ARIS AHMAD RISADI
Sumber :  http://www.arisahmadrisadi.blogspot.com/

Alumni IPB-Bogor. Pemerhati masalah pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, dan penerapan good governance.

Pada tanggal 5 Juli 2011 Kompas menurunkan tulisan yang berjudul “Membangun Asa di Daerah Tertinggal”. Berkisah tentang perjuangan dan kesulitan Ruslan Suparlan dalam membangun Desa Sundawenang, wilayah terpencil di Kabupaten Tasikmalaya.

Wilayah tempat perjuangan Kang Ruslan boleh jadi memang terpencil, tertinggal, dan bahkan mungkin desanya dikatagorikan sebagai desa tertinggal yang membutuhkan perhatian serius Pemerintah. Hanya saja ini ironis, karena Kabupaten Tasikmalaya yang tidak termasuk dalam daftar daerah tertinggal dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2010-2014 sejatinya tidak memiliki wilayah tertinggal. Apalagi desanya Kang Ruslan hanya berjarak 12 kilometer dari ibukota kabupaten.
Kasus seperti Desa Sundawenang ini banyak di Indonesia, yaitu adanya desa/wilayah tertinggal di kabupaten yang tidak dikatagorikan sebagai daerah tertinggal. Kondisi ini menimbulkan masalah sendiri, terutama dalam merumuskan kebijakan/program, dan alokasi anggaran.

Seperti telah diketahui bahwa RPJMN telah menetapkan sebelas prioritas nasional yang diantaranya adalah “Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca Konflik”. Penetapan prioritas ini telah memaksa Kementerian/Lembaga untuk menjadikan 183 daerah tertinggal yang dicantumkan dalam RPJMN (sesuai Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010) untuk menjadi anak emas. Kebijakan ini telah menjadikan wilayah seperti Desa Sundawenang sebagai wilayah tertinggal yang ditinggalkan.

Pengertian Daerah Tertinggal

Untuk kepentingan perencanaan pembangunan, secara resmi telah dirumuskan pengertian dari daerah tertinggal. Suka atau tidak suka pengertian inilah yang kemudian menjadi dasar perumusan kebijakan dan alokasi anggaran.

Dalam dokumen Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 07/PER/M-PDT/III/2007, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional.

Pengertian ini memiliki tiga kata kunci yang perlu diperhatikan. Pertama, daerah kabupaten. Secara administratif, daerah tertinggal harus masuk dalam katagori kabupaten. Hal ini mengandung konsekuensi, bahwa daerah yang bernomenklatur kota, seperti Kota Sabang, Kota Tasikmalaya, dan Kota Tual tidak bisa dikatagorikan sebagai daerah tertinggal, betapapun mungkin secara fisik di kota-kota tersebut masih banyak wilayah tertinggal, atau bahkan terdapat desa-desa yang dikatagorikan tertinggal.

Kedua, Masyarakat dan wilayah. Ketertinggalan dilihat dari dua aspek pokok yaitu aspek masyarakat dan aspek wilayahnya. Kedua aspek ini dirinci kedalam enam kriteria pokok ketertinggalan yaitu: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Data untuk masing-masing kriteria ini bersumber dari data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan, yaitu: Data Potensi Desa, Survei Sosial Ekonomi Nasional, dan Data Keuangan Daerah.

Ketiga, Relatif dalam Skala Nasional. Data-data masing-masing kabupaten diperbandingkan secara relatif dengan seluruh daerah kabupaten/kota yang ada di Indonesia.

Sejauh pengertian daerah tertinggal ini konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, maka pengertian daerah tertinggal yang dikeluarkan Pemerintah dapat menjadi alat ukur dan alokator anggaran yang objektif. Jika sebaliknya, maka penetapan daerah tertinggal tersebut justru potensial menjadi penyebab disparitas baru.

Upaya pemerintah untuk membuat kriteria objektif patut dihargai. Namun penghargaan ini hendaknya tidak menghalangi untuk mengkritisinya, sejauh mengandung kebenaran dan berguna bagi kesejahteraan rakyat. Karena seperti telah disampaikan, penetapan daerah tertinggal ini akan mempengaruhi kebijakan dan alokasi anggaran pembangunan.

Penetapan daerah tertinggal yang dilakukan pemerintah tampaknya tidak luput dari kekeliruan dan kelemahan, diantaranya: Pertama, Data daerah tertinggal yang tertuang dalam RPJMN 2005-2009 tidak sama persis dengan data daerah tertinggal yang ada di STRANAS PPDT 2005-2009. RPJMN 2005-2009 memasukkan Kabupaten Lingga (Provinsi Kepulauan Riau) dan Kabupaten Luwu Utara (Provinsi Sulawesi Selatan) sebagai daerah tertinggal, sementara kedua kabupaten tersebut dalam STRANAS PPDT 2005-2009 tidak dimasukkan sebagai daerah tertinggal. Dan sebaliknya, Kabupaten Natuna (Provinsi Kepulau Riau) dalam STRANAS PPDT 2005-2009 dikelompokkan sebagai daerah tertinggal, tapi dalam dokumen RPJMN 2005-2009 tidak dicantumkan. Untungnya dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II digunakan data yang sama yaitu RPJMN 2010-2014.

Kedua, Asumsi yang kurang tepat ketika tiga puluh empat daerah otonom baru yang dimekarkan dari daerah induk yang berstatus daerah tertinggal langsung ditetapkan sebagai daerah tertinggal (dari 183 daerah tertinggal seperti tercantum dalam RPJMN 2010-2014). Sebetulnya perlu kajian yang lebih mendalam, karena boleh jadi dari tiga puluh empat daerah otonom baru tersebut ada yang tidak tertinggal, atau paling tidak ada daerah otonom baru yang dimekarkan dari non daerah tertinggal yang justru kondisinya lebih tertinggal yang tentunya menjadi lebih berhak untuk mendapatkan perhatian.

Ketiga, Data Potensi Desa yang digunakan sebagai dasar penetapan daerah tertinggal banyak mengandung kelemahan. Menurut Ivanovic Agusta (2007), mutu Data Potensi Desa belumlah prima. Data Potensi Desa Tahun 2006 terlalu banyak kesalahan ketik ketika menyebut komoditas unggulan desa, seperti seharusnya “padi” tetapi ditulis “3padi”, “padsi”, “padi s”, dan banyak lagi. Mengherankan pula mendapati desa hanya berpenghuni seorang penduduk perempuan, atau hanya berisi satu rumah tangga. Kesalahan seperti ini muncul sejak sensus sebelumnya. Pada Data Potensi Desa Tahun 2003 kesalahan pencatatan penduduk dapat mencapai 70% di suatu desa, meskipun di desa lain tidak lebih 20%. Kesalahan pencatatan infrastruktur bisa mencapai 50%, namun jumlah infrastruktur di desa biasanya relatif sedikit. Sekalipun berbalut kelemahan, Data Potensi Desa tetap satu-satunya data sensus desa yang dimiliki Indonesia dan dijadikan bahan perencanaan pembangunan.

Penetapan Desa Tertinggal

Pengertian daerah tertinggal berbeda dengan pengertian desa tertinggal. Masalah ini menjadi paradoks, ketika desa-desa tertinggal justru banyak juga berada di kabupaten yang dikatagorikan maju (non daerah tertinggal). Dari catatan yang dikeluarkan oleh Kementerian PDT, pada tahun 2007 terdapat 32.379 desa tertinggal dimana 54,51 % (17.649 desa) ada di daerah tertinggal, dan sisanya 45,49% (14.730 desa) berada di non daerah tertinggal.

Kita menyaksikan perjuangan untuk kemajuan desa tertinggal tidak dengan sendirinya masuk dalam wacana perjuangan pembangunan daerah tertinggal yang sudah membatasi diri pada batasan administratif kabupaten tertinggal dan tercantum dalam dokumen RPJMN.

Kalau begitu kondisinya, dapat dipastikan bahwa gerakan perjuangan untuk membangun daerah tertinggal yang meninggalkan keberpihakan kepada desa-desa tertinggal dan wilayah-wilayah tertinggal yang berada di kabupaten maju, menyebabkan penanganan ketertinggalan wilayah tidak akan pernah tuntas.

Kalaulah desa-desa tertinggal yang berada di daerah maju (non daerah tertinggal) sulit untuk dibangun melalui pendekatan pelaksanaan kebijakan prioritas nasional RPJMN, Pemerintah tetap perlu melakukan pendekatan kebijakan lain untuk menyentuh desa-desa tertinggal ini.

Disamping desa tertinggal, pemerintah seringkali menggunakan istilah daerah/desa terpencil dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat. Hanya saja pengertian daerah/desa terpencil ini digunakan terbatas dalam rangka pemberian insentif pajak, tunjangan pegawai, atau penyediaan sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan.

Wilayah terpencil atau daerah terpencil secara umum diantaranya diartikan sebagai wilayah yang sulit dalam berbagai aspek, seperti tidak/belum tersedia pelayanan umum, harga kebutuhan pokok yang sangat mahal, tidak/belum tersedia sarana komunikasi yang memadai, sehingga menimbulkan kesulitan yang tinggi bagi penduduk yang berdomisili di wilayah tersebut.

Namun demikian masing-masing kementerian/lembaga cenderung memiliki pengertiannnya sendiri tentang daerah/desa terpencil sesuai dengan kebutuhannya dan cenderung satuan yang diambil adalah desa. Istilah daerah/desa terpencil yang digunakan masing-masing kementerian/lembaga belum menggambarkan keseluruhan kebutuhan penangananan ketertinggalan wilayah.

Sehubungan dengan itu, tampaknya ada kebutuhan untuk dilakukan penyamaan persepsi dan konsepsi sebelum dilakukan koordinasi dan sinergitas program antar kementerian/lembaga dalam penanganan ketertinggalan wilayah.

Tidak adanya kesamaan konsepsi tentang ketertinggalan wilayah, menjadi salah satu sebab banyaknya wilayah tertinggal yang terlupakan.

ARIS AHMAD RISADI

Direktur Eksekutif

Perkumpulan Studi dan Pembangunan Indonesia (PSPI)

Membangun Asa di Daerah Tertinggal (Kompas)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber: Kompas

Ruslan Suparlan, ST

Saat menjadi warga pertama dari Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang lulus jenjang pendidikan tinggi pada 2002, Ruslan Suparlan menyimpan duka. Dia merasa sedih karena hingga 57 tahun Indonesia merdeka, baru dirinya seorang dari warga Kampung Cibuleud yang melanjutkan dan mampu lulus jenjang pendidikan tinggi.

”Tanpa pendidikan, masyarakat di mana pun pasti akan tetap terpuruk, tidak terkecuali di Desa Sundawenang. Saya sendiri, dulu, harus menempuh perjalanan jauh dari rumah melintasi bukit dan jalan rusak hanya untuk bisa bersekolah,” cerita Ruslan, lulusan Sekolah Tinggi Teknik (STT) Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya.

Kondisi pendidikan di Desa Sundawenang memang berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi dan infrastrukturnya. Sampai 2003, rata-rata warga Desa Sundawenang yang lulus tingkat sekolah dasar (SD) dan melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP) hanya tiga orang dari sekitar 20 orang.

Sisa murid lulusan SD tersebut kemudian memilih bekerja sebagai buruh tani, buruh kasar, atau malah menikah. Akibatnya, sumber daya manusia dari desa yang ”hanya” berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat kota Kabupaten Tasikmalaya ini tercatat sebagai salah satu daerah tertinggal.

Secara administratif, Desa Sundawenang berlokasi di kawasan Kecamatan Salawu, ujung barat perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Garut. Sampai sekitar pertengahan Juni 2011, Desa Sundawenang masih terpuruk akibat buruknya kualitas infrastruktur di kawasan tersebut.

Jalan di daerah itu, yang lebarnya sekitar 3 meter, kondisinya rusak berat. Di samping itu, kontur jalan turun naik dan berkelok-kelok. Meski begitu, jalan ini menjadi satu-satunya penghubung warga dengan dunia luar. Kondisi yang demikian membuat mereka kesulitan mengembangkan kualitas hidup.

Fakta yang menyesakkan dada itu membuat Ruslan merasa bertanggung jawab untuk ikut serta memperbaiki kondisi kampungnya. Dia yakin, minimnya sarana pendidikan telah membuat warga Desa Sundawenang terpuruk.

Ruslan kemudian bertekad mendirikan sekolah formal setingkat SMP dan SMK bagi masa depan anak-anak Desa Sundawenang.

Gratis

Keinginan itu tidak hanya berhenti dalam hati atau sekadar wacana, tetapi Ruslan juga segera memulai jalan untuk mewujudkannya. Selama dua tahun, dia sengaja menimba ilmu sebagai guru di beberapa sekolah di Tasikmalaya, seperti di Madrasah Tsanawiyah Negeri Salawu dan Madrasah Tsanawiyah Al Azis Salawu.

Setelah Ruslan merasa memiliki cukup bekal untuk mengajar, dia kemudian memberanikan diri untuk membuka program Kejar Paket B lewat jenjang Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) pada 2003. Dia memilih PKBM karena PKBM dinilai paling sesuai dengan kemampuan ekonomi, kebutuhan, dan waktu yang dimiliki penduduk Desa Sundawenang.

Namun, karena tidak ada kuota di PKBM Desa Sundawenang, Ruslan lalu meminta pengalihan kuota dari PKBM minim peminat, yakni PKBM Al Adnan di Kota Tasikmalaya.

”Saat itu kuota 20 orang di PKBM Al Adnan di Kota Tasikmalaya tidak ada peminatnya. Saya meminta izin mengambil kuotanya untuk Desa Sundawenang karena yakin peminat di sini sangat tinggi,” cerita Ruslan.

Dugaan Ruslan tidak meleset. Saat pertama kali dibuka, sebanyak 31 warga Kampung Cibuleud yang umumnya berusia 20-30 tahun mendaftarkan diri. Tidak hanya warga dari Kampung Cibuleud, tetapi warga kampung lain, seperti Jahiang dan Cicantel yang berjarak 2 kilometer hingga 5 kilometer dari lokasi pendidikan itu, juga turut mendaftar. Tiga tahun berjalan, peminatnya mencapai 350 orang atau yang terbesar di Jawa Barat.

Besarnya minat masyarakat mengikuti PKBM mendorong Ruslan mengubah PKBM menjadi SMP Al Madaniah pada 2007. Ini sekaligus menjadi SMP yang pertama di Desa Sundawenang.

Semua biaya pendidikan di SMP tersebut digratiskan. Sekolah itu juga menjadi tempat anak-anak di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya melanjutkan pendidikannya selulus SD. Dengan alasan yang sama, tiga tahun kemudian Ruslan menggagas terbentuknya SMK Pertanian Al Madaniah.

”Mimpi saya perlahan-lahan terwujud. Sengaja kami mengambil bidang pertanian karena mayoritas warga (di Desa Sundawenang) mata pencariannya sebagai petani,” kata Ruslan.

Perhatian

Meski berniat baik, kiprah Ruslan tersebut tidak lepas dari nada sumbang. Sebagian kalangan sempat meragukan eksistensi SMP Al Madaniah. Seorang pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, mengatakan bahwa dua bangunan semipermanen SMP Al Madaniah adalah kandang bebek.

Meski begitu, Ruslan tidak patah harapan. Semangat justru datang dari kepedulian warga. Kerelaan warga untuk menyumbang uang guna membeli tanah serta keinginan dan tekad siswa yang mau menempuh perjalanan darat selama sekitar satu jam dari rumah ke sekolah adalah beberapa sikap yang membuat Ruslan merasa bangga.

Lima tahun berjalan, sekitar 200 anak dari pedalaman Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, sekarang bisa mengenyam pendidikan di SMP Al Madaniah dan SMK Al Madaniah. Beberapa prestasi pun berhasil direngkuh sekolah tersebut.

SMP Al Madaniah, misalnya, berhasil menempati peringkat ke-27 pada ujian nasional SMP tahun 2011 serta juara Olimpiade Siswa Nasional 2010 tingkat SMP se-Tasikmalaya untuk bidang Matematika dan Biologi.

Selain itu, siswa SMK Pertanian Al Madaniah juga menjadi wakil Kabupaten Tasikmalaya dalam Raimuna Pramuka Jawa Barat 2011.

Ruslan berharap, keberadaan SMP dan SMK Pertanian Al Madaniah dapat memicu hasrat pemerintah untuk lebih memperhatikan pemerataan sekolah di daerah-daerah terpencil. Dia mengatakan, selama ini banyak sekolah swasta ibarat menjadi jembatan kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan pendidikan di Indonesia.

”Pada saat pemerintah belum bisa membangun semua sarana pendidikan (yang diperlukan warganya), sekolah swasta mampu mengisi kekosongan itu,” ujar Ruslan yang menjalankan SMP dan SMK Pertanian Al Madaniah dengan dukungan dana dari donatur dan hasil penjualan bibit tanaman setempat.

Sosok on Kompas

Kepala Sekolah SMP AL-MADANIYAH SALAWU

Ruslan Suparlan, ST

KOMPAS, Kolom SOSOK (Edisi Selasa, 05 Juli 2011)

Lengkapnya baca Disini atau dari kompas